Minggu, 09 Juni 2013

DOWNLOAD E-BOOK GRATIS: John Rossa - Dalih Pembunuhan Massal


BULAN September, bisa dibilang sebagai bulan paling bersejarah dalam cerita Indonesia modern. Pada bulan ini, terjadi satu peristiwa yang menjadi penanda lahirnya sebuah rezim politik paling berdarah dan paling kuat dalam sejarah Indonesia modern, rezim Orde Baru.
Cita-cita tentang Indonesia yang demokratis, yang menjunjung tinggi perikemanusiaan dan perikeadilan, yang meniscayakan kebhinekatunggalikaan, sejak September 1965 terkubur bersama jutaan bangkai manusia sebangsa.  Setelah September 1965, kita seperti orang mabuk yang berjalan terseok-seok, kumuh, dan sering beringas dalam menggapai dan merumuskan identitas sebagai sebuah bangsa. Tapi mengherankan, tidak banyak studi yang dilakukan dalam masa-masa paling gelap itu. Tidak ada ’seujung kuku’ jika dibandingkan dengan, misalnya, studi tentang Holocaus Nazi/Hitler terhadap bangsa Yahudi di Jerman pada masa Perang Dunia II. Padahal, Peristiwa G30S 1965 dan yang menyertainya, merupakan tragedi kemanusiaan terbesar kedua setelah Holocaus dalam rentang skala, waktu, dan jumlah korban yang ditimbulkannya. Kita seperti ingin melupakannya ketimbang merenungkannya, ingin membantahnya ketimbang  memahaminya.

Salah satu dari sedikit sarjana yang mendedikasikan dirinya dalam upaya mengungkap Peristiwa G30S tersebut adalah sejarahwan John Roosa, yang saat ini menjadi profesor di University of British Columbia (UBC), Kanada. Bukunya, Pretext for Mass Murder: The September 30th Movement and Suharto's Coup d'√Čtat in Indonesia, yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia menjadi Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto (Jakarta: ISSI dan Hasta Mitra, 2007), adalah bagian dari upayanya untuk memahami peristiwa tersebut. Untuk itu, bertepatan dengan bulan ‘gelap’ ini, M. Zaki Hussein dari Left Book Review (LBR), berbincang-bincang dengan John Roosa. Berikut petikannya:
Apa yang membuat Anda tertarik untuk meneliti G30S dan pembantaian orang-orang PKI serta sayap kiri pada 1965-1966?
Waktu saya belajar sejarah Asia Tenggara di universitas tahun 1990an, saya tidak habis pikir, kok bisa ada peristiwa sebesar dan sehebat ini tapi pengetahuan kita tentangnya sedemikian kecil. Sebagai sejarahwan, saya lihat ada kebutuhan untuk investigasi yang lebih mendalam guna membongkar sejarah yang digelapkan oleh pembunuh-pembunuh itu. Sebagai manusia biasa yang peduli dengan prinsip-prinsip moral, saya benci dengan rezim Suharto. Rezim itu berfungsi sebagai attack dog buat modal asing dan jadi penuh dengan pejabat-pejabat bodoh dan brutal, orang dengan watak preman yang sama sekali tidak peduli dengan prinsip HAM, yang mengkhianati prinsip kemerdekaan, membunuh dan menyiksa orang Indonesia sendiri, dan kemudian menjual kekayaan tanah airnya kepada konglomerat multinasional dengan harga murah.
Akhir tahun 1990an, saya heran kenapa gerakan reformasi tidak mempersoalkan kejahatan-kejahatan yang terjadi waktu Orde Bobrok baru dimulai, tidak bisa melihat rezim itu sebagai satu package dari 1965 sampai 1998. Miseducation orang Indonesia selama 32 tahun cukup lengkap. Untuk mengerti rezim itu, kita harus kembali ke hari-hari lahirnya.  
Saya tidak habis pikir, kok bisa ada peristiwa sebesar dan sehebat ini tapi pengetahuan kita tentangnya sedemikian kecil.’ 
Sekalipun sekarang sudah ada keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mencabut kewenangan Kejaksaan untuk melarang buku, tetapi buku Anda, Dalih Pembunuhan Massal, pernah dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 2009.  Apa komentar Anda mengenai hal ini?
Dari satu segi, pelarangan itu bisa dianggap sebagai penghargaan. Ternyata kekuatan buku saya tinggi sekali, sampai pejabat-pejabat takut buku itu bisa mempengaruhi rakyat Indonesia. Dan pejabat-pejabat di Clearing house-nya Kejaksaan Agung teliti sekali waktu membaca Dalih. Konon, mereka telah siapkan laporan panjang dan mendaftar 143 kesalahan dari Dalih. Tapi, dari segi lain, pembredelan itu tentu saja, menyedihkan. Kok di era reformasi dan era internet ada pejabat yang mengira mereka masih bisa membredel buku. Saya lihat kemenangan kami di MK tahun 2010 sebagai  kemenangan untuk rule of law dan hak kebebasan berekspresi. Yang tetap menjengkelkan, Kejaksaan Agung tidak mau membuka laporannya. Saya masih penasaran, apa keberatan mereka terhadap buku saya dan kenapa mereka membredel Dalih?
Anda menyebutkan bahwa PKI sebagai organisasi tidak terlibat dalam G30S, tapi ada individu PKI yang terlibat tanpa persetujuan partai, bisa anda jelaskan secara singkat hal ini?
G30S itu operasi rahasia. Badan-badan partai, seperti Central Committee (CC) dan CDB-CDB (Comite Daerah Besar)  di tingkat propinsi, tidak pernah membicarakan G30S, apalagi ambil keputusan. Menurut Iskandar Subekti, panitera Politbiro, banyak dari anggota Politbiro itu sendiri tidak tahu persis apa itu G30S (Di Politbiro ada kira-kira 12 orang: Aidit, Lukman, Sudisman, dll.). Soal yang dibicarakan di Politbiro adalah: lebih baik PKI mendukung para perwira progresif untuk mendahului Dewan Jenderal (DJ) atau tunggu sampai DJ melakukan kudeta. Politbiro ambil keputusan bahwa PKI harus mendukung para perwira progresif dan Aidit ditugaskan untuk melaksanakan keputusan itu. Sehingga anggota Politbiro tidak melihat G30S sebagai aksi partai. Aidit membentuk tim inti yang terdiri dari beberapa anggota Politbiro, misalnya Sudisman dan Oloan Hutapea, dan hanya tim inti itu, tim ad hoc di luar institusi formal di partai, yang bekerja dengan Sjam di Biro Khusus untuk merancang operasi G30S. Tapi, belum tentu tim inti itu tahu persis apa itu G30S. Tampaknya, Aidit dan pemimpin PKI lain di tim inti itu tetap berpikir bahwa kelompok perwira progresif (Untung cs.) yang memegang peran utama dalam aksi G30S. Mereka kira Untung, Latief, dan Suyono punya kekuatan militer yang cukup untuk melawan jenderal-jenderal kanan dan punya rencana yang jelas. Padahal, Untung cs. berpikir bahwa pemimpin PKI yang memegang peran utama. Dua kelompok itu (orang PKI di tim intinya Aidit dan perwira militer) tidak pernah duduk bersama untuk menyusun G30S. Karena Sjam jadi perantaranya, persiapan aksi itu jadi kacau.
Rezim Suharto menangkap lebih dari satu juta orang atas nama ’penumpasan G30S.’ Jelas penangkapan semasif itu sebenarnya tidak perlu sebagai reaksi terhadap aksi kecil. Pepatah yang dipakai Sukarno benar: tentara ’membakar rumah untuk membunuh tikus.’ G30S merupakan dalih saja untuk kepentingan yang lebih besar.  
’Kelompok Suharto mau membuktikan kesetiaannya kepada kampanye antikomunis Amerika Serikat (AS), supaya AS membantu tentara bertahan lama sebagai penguasa.’
Anda mengatakan bahwa peristiwa G30S itu sebenarnya merupakan dalih untuk sebuah pembantaian massal. Lalu, apa sebenarnya tujuan utama di balik pembantaian massal itu?
Ada dua hal: represi terhadap gerakan nasionalis kiri (pengangkapan massal, penahanan massal) dan pembunuhan terhadap gerakan itu. Kalau represi, tujuan utamanya menghancurkan kekuatan petani, yang sedang mendukung proses land reform, dan kekuatan buruh, yang sedang mengambil alih banyak perusahaan milik modal asing. Represi itu sebenarnya bisa dilakukan tanpa pembunuhan. Waktu itu PKI tidak melawan. Kenapa kelompok Suharto di dalam Angkatan Darat (AD) memilih membunuh orang yang sudah ditahan? Ada beberapa kemungkinan, tapi satu poin yang cukup penting: kelompok Suharto mau membuktikan kesetiaannya kepada kampanye antikomunis Amerika Serikat (AS), supaya AS membantu tentara bertahan lama sebagai penguasa. Suharto sadar bahwa rezim dia akan bergantung kepada bantuan finansial dari AS untuk memperbaiki ekonomi Indonesia. 
Anda nyaris tidak membahas apa yang terjadi di Lubang Buaya saat peristiwa G30S, kenapa demikian? Apakah karena kurangnya data atau karena kejadian-kejadian di Lubang Buaya memang tidak signifikan untuk merekonstruksi narasi tentang peristiwa G30S?
Memang tidak  banyak informasi yang bisa diandalkan tentang apa persisnya yang terjadi di Lubang Buaya. Hampir semua orang yang hadir di sana, tidak mau mengakui kehadiran mereka atau tidak mau cerita secara jelas dan jujur tentang kejadian-kejadian di sana. Wajar, kalau kita ingat teror yang mereka alami. Yang jelas, propaganda kelompok Suharto tentang Lubang Buaya itu bohong belaka. Ya, rezim itu sendiri tidak peduli dengan fakta: mereka tidak pernah membuat investigasi dengan benar. Malah, mereka memaksa beberapa gadis yang tidak punya hubungan dengan peristiwa itu mengaku membunuh para jenderal. Ada buku baru yang mengharukan tentang hal ini: Aku Bukan Jamilah (2011), oleh R. Juki Ardi. Kalau geng Suharto mau menghargai jenderal-jenderal itu, seharusnya mereka melacak kejadian di Lubang Buaya sampai bisa tahu persis siapa yang membunuh mereka dan atas perintah siapa. Kalau informasi itu bisa diketahui, kita bisa memahami proses pengambilan keputusan di dalam kelompok G30S (Sjam, Untung cs).  
Anda menyebutkan bahwa Amerika Serikat memiliki kontak dengan kelompok Jenderal Angkatan Darat yang dinamakan 'brain trust.' Apakah kelompok ini yang disebut dengan ’Dewan Jenderal?’ Seberapa erat sebenarnya hubungan mereka dengan Amerika Serikat?
Brain trust’ itu istilah yang dipakai oleh CIA sendiri dalam laporan tentang G30S tahun 1968. Saya kira, tidak ada satu kelompok perwira AD yang sering rapat dan menyusun bersama strategi yang jelas untuk semacam konfrontasi terhadap PKI. Organisasi mereka lebih informal dan strateginya disusun dalam pertemuan-pertemuan biasa. Yang jelas, jenderal Abdul Haris Nasution menjadi pemimpin para perwira antikomunis dan dia sering bicara dengan perwira lain tentang strategi untuk menghancurkan PKI. Hubungan antara pimpinan AD dan AS erat sekali sebelum dan sesudah G30S. Banyak perwira AD diterbangkan ke AS untuk latihan militer dan sebagian di antara mereka rela jadi informant untuk militer AS. AS kasih senjata, alat komunikasi, bantuan material, seperti beras, dan bantuan finansial serta daftar nama anggota PKI. AS membantu tentara menciptakan psychological warfare campaign. Perusahaan-perusahaan AS berhenti membayar royalti ke pemerintah Sukarno di awal tahun 1966 dan mulai mengirim uang itu ke rekening Suharto.    
Pembunuhan massal terjadi sesudah banyak orang PKI rela masuk kamp-kamp penahanan. Kemudian tugas milisi menjadi algojo saja. Kalau tidak ada backing dari tentara, orang sipil di milisi-milisi itu tidak bisa berbuat banyak.’
Ada yang menyatakan bahwa sekalipun pembantaian 1965-1966 diorganisir oleh Angkatan Darat, tetapi adanya ketegangan dan persaingan tajam antara kelompok komunis dan nonkomunis juga menjadi salah satu faktor yang mendorong terjadinya pembantaian tersebut. Bagaimana pendapat Anda mengenai hal ini?
Ketegangan antara PKI dan organisasi anti-komunis sebelum G30S, misalnya antara PKI dan PNI di Bali, atau PKI dan NU di Jawa Timur, tidak bisa menjelaskan pembunuhan massal. Orang sipil yang ikut milisi, seperti Tameng di Bali dan Ansor di Jawa Timur, tidak mampu membunuh sebegitu banyak orang sendirian. Paling-paling mereka bisa mengorganisir tawuran-tawuran. Dalam tawuran-tawuran seperti itu, orang PKI berani melawan dan tidak akan banyak orang yang gugur. Pembunuhan massal terjadi sesudah banyak orang PKI rela masuk kamp-kamp penahanan. Kemudian tugas milisi menjadi algojo saja. Kalau tidak ada backing dari tentara, orang sipil di milisi-milisi itu tidak bisa berbuat banyak. Sekejam apapun orang PKI sebelum G30S (dan kekejaman itu juga terlalu sering dibesar-besarkan), tetap tidak bisa membenarkan tindakan extra-judicial killing yang dilakukan milisi maupun tentara. Seharusnya para pelaku pembunuhan itu malu dan menyesal dengan apa yang mereka perbuat: membunuh orang yang telah tidak berdaya. Mereka adalah pengecut yang kemudian berpose sebagai pahlawan perang. Tidak ada perang waktu itu, kecuali dalam imajinasi orang yang tidak tahu apa itu perang yang sebenarnya. 
Menurut Anda, apa dampak pembantaian 1965-1966 yang sampai sekarang masih terasa, baik terhadap korban maupun rakyat Indonesia secara umum?
Ya jelas masih terasa. Identitas banga Indonesia berubah total sesudah 1965. Semangat antikolonialisme hilang dan anti-komunisme menjadi dasar identitas bangsa. Ini berarti kebencian terhadap sesama orang Indonesia menjadi basis untuk menentukan siapa warganegara yang jahat dan baik.  Sistem ekonomi dan sistem politik juga berubah total. Sesudah 1998 orang Indonesia menggali lagi ide-ide dari zaman pra-1965, dan juga pra-1959 (sebelum Demokrasi Terpimpin): ide-ide tentang rule of law, HAM, sekularisme, dll. 
Apa pelajaran yang bisa diambil gerakan Progresif di Indonesia sekarang agar peristiwa mengerikan semacam G30S itu tidak terulang kembali?
Peristiwa G30S sendiri sebenarnya tidak begitu mengerikan. Seperti Bung Karno katakan, G30S merupakan gelombang kecil dalam sejarah Indonesia yang penuh dengan perang (RMS, DI/TII, PRRI/Permesta) dan kerusuhan. Berapa kali Bung Karno mau dibunuh? G30S membunuh duabelas orang (enam jenderal, satu letnan, anaknya Nasution, satpam di rumah sebelah rumah Leimena, keponakan Maj. Gen. Panjaitan, dan dua perwira di Jawa Tengah). Yang jauh lebih mengerikan adalah pembunuhan massal yang terjadi sesudah G30S. Sekarang yang penting menurut saya adalah upaya-upaya untuk meningkatkan kesadaran di Indonesia tentang kejahatan-kejahatan yang terjadi pada waktu itu. Secara umum orang Indonesia tidak tahu apa-apa tentang kejahatan itu. Juga harus ada pengakuan dari negara bahwa memang tentara dan orang sipil yang melakukan kejahatan. Extra-judicial killings, penghilangan paksa, penyiksaan, mati kelaparan dalam penjara, semuanya tidak bisa dibenarkan dan tidak bisa ditolerir.
Orang kiri sekarang harus mengoreksi diri juga: selama ini partai-partai Marxis-Leninis tidak menghargai prinsip-prinsip HAM. Kita harus belajar bagaimana berpolitik dan berperang melawan imperialisme dan kapitalisme seraya tetap memegang Universal Declaration of Human Rights dan Konvensi-konvensi Geneva.***
 
 Tanpa banyak basa-basi, silahken download di sini

DOWNLOAD E-BOOK GRATIS: Gerakan Kebebasan Sipil: Studi dan Advokasi Kritis atas Perda Syari’ah

Gerakan Kebebasan Sipil: Studi dan Advokasi Kritis atas Perda Syari’ah

 
Penulis: Ihsan Ali-Fauzi, Saiful Mujani
ISBN: 978-979-26-9019-4
Tahun Terbit: 2009
Ukuran: 13,5 x 20 cm, x + 178 hlm
Harga: Rp.
35000
Diskon: (10%) Rp. 31500
Buku ini mencoba memotret sebuah proses pendalaman demokrasi dan penghormatan terhadap hak-hak asasi yang terjadi di tanah air kita. Terekam di sini suatu dinamika di mana perda-perda bernuansa Syari’ah yang dianggap mengancam kebebasan sipil dipelajari secara seksama, didiskusikan secara kritis bersama berbagai kelompok masyarakat sipil dari berbagai latar belakang, dan yang kesepakatan apapun mengenainya disampaikan kepada pejabat publik yang bertanggung jawab atas keluar dan dilaksanakannya perda-perda itu. Tersaji juga liputan media massa mengenai diskusi itu dan polemik yang berkembang karenanya. Buku ini merekam sebuah model partisipasi politik warga negara yang mungkin bisa dijadikan contoh bagaimana kita bisa menyelesaikan perbedaan pendapat, bahkan konflik kepentingan, secara damai, bermartabat dan beradab.

  Tanpa banyak basa-basi, silahken download di sini

SELEBRASI DALAM SEPAKBOLA DAN KOMUNIKASI NONVERBAL




“Ketika Anda menyaksikan sepakbola, maka Anda akan melihat kehidupan di dalamnya.”
-Pele-

Siapa sangka, kondisi ketika 22 orang pria berlari ke segala arah lapangan untuk memperebutkan sebuah benda bulat yang bergulir pasrah, dapat dijadikan komparasi seimbang dengan sebuah mekanisme bernama.. “kehidupan”?
Siapa kira, darah, tangis, kebahagian, semangat, keajaiban, nyawa, kegilaan, perjuangan dan ratusan konsep yang dikenal manusia dapat sekaligus ditemui hanya di atas sebuah lapangan lusuh dengan sepasang sendal (yang berfungsi sebagai gawang) di setiap ujung bagiannya?
Siapa yang bisa percaya, olahraga yang aturannya sesederhana “cetaklah gol lebih banyak dari lawanmu” bisa mengguncang dunia, mengacaubalaukan sistem perekonomian sampai mampu memicu perang sungguhan antar negara?
Tak perduli siapa Tuhanmu, apa warna kulitmu, di mana kau dilahirkan atau identitas lain yang melekati tubuhmu, sepakbola adalah permainan universal yang mampu “menenggelamkan” seluruh umat manusia tanpa pernah memerdulikan batasan usia, jenis kelamin, atau sentimen SARA lainnya.
Sepakbola mungkin bisa dikatakan sebagai “raja” yang memimpin gagah deretan permainan yang pernah, sedang dan akan umat manusia ciptakan.
Sepakbola adalah perjuangan yang  tak sesempit perburuan kemenangan. Di balik semua itu, ada kebanggaan yang membara pada balutan setiap jersey klub dan negara yang dibela, sejarah yang melatarbelakangi sebuah dendam dan kebencian yang berubah menjadi motivasi sampai mati yang diguratkan di atas lapangan hijau yang memanas dan lalu terbakar oleh sorak sorai teriakan membahana.
Tensi, gengsi, determinasi maha tinggi adalah nyawa yang mengiringi sebuah pertandingan, melebihi hasil akhir yang melekati papan skor yang berdiri lirih.
Tidak ada yang mampu menyangkal, bahwa sepakbola telah dengan tebal dilekati “daki” filosofis di sembilan puluh menit yang mewakili banyak tujuan, kebanyakan rangkaian kejujuran, namun tak jarang semuanya tidak lebih dari sekadar lembar kepalsuan.
Jika sepakbola dapat disandingkan dengan sebuah agama, maka para suporter adalah umatnya, pemain yang meliuk di atas lapangan adalah para nabi pembawa wahyu surga, stadiun yang memuat lapangan adalah rumah ibadah yang menampung ritual sejiwa, gol adalah surga yang dituju dengan proses panjang melewati tumpukan cobaan demi nirwana, dan kemenangan.. kemenangan adalah “Tuhan” yang dipuja-puji, yang disembah, yang mesti melewati proses jungkir balik dahulu hanya untuk menemukan sensasi transenden yang kuat melekati-Nya.
Dan apa yang lebih membahagiakan bagi setiap pemain sepakbola berikut fans fanatik yang menjadi saksi hidup dari sebuah pertandingan “kehidupan”, kecuali ketika mereka bersama-sama melihat detik-detik ketika bola bergulir dramatis melewati setiap inci garis gawang kepunyaan lawan?
Selebrasi dalam sepakbola adalah momen paling emosional dan esensial bagi setiap pemain dan mereka yang menyaksikan alasan kenapa hal itu terjadi.
Selebrasi dalam sepak bola dapat didefenisikan sebagai “ungkapan kegembiraan yang secara emosional dilakukan setelah atau sesudah seorang pemain mencetak gol ke gawang lawan atau ketika merayakan kemenangan di akhir laga.”
Walau ungkapan kegembiraan adalah hal yang wajar terjadi dalam banyak kondisi selain di dunia olahraga, namun selebrasi dalam sepakbola mempunyai sisi menarik tersendiri yang dapat dijadikan sebagai bahan analisis teoritis ilmu komunikasi, terutama dalam kajian komunikasi non-verbal.
Seperti yang telah dijabarkan banyak ahli komunikasi, jika pesan non-verbal adalah “komunikasi yang pesannya tidak berbentuk kata-kata (tekstual atau lisan) yang disampaikan melalui berbagai bentuk stimulus yang kemudian diinterpretasikan oleh komunikator melalui kemampuan empiris indrawi.”
Selebrasi—sebagai bentuk luapan emosional—seringnya ditampilkan dalam bentuk pesan kinesik gestural, fasial maupun postural.
Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya, “Psikologi Komunikasi” menjabarkan bentuk komunikasi nonverbal ke dalam beberapa bagian, termasuk bentuk pesan kinesik.
Pesan kinesik, adalah pesan nonverbal yang menggunakan gerakan tubuh yang bisa dimaknai.
Pesan kinesik terdiri dari tiga komponen utama, yaitu: pesan fasial, pesan gestural, dan pesan postural.
            Pesan fasial menggunakan air muka untuk menyampaikan makna tertentu. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa wajah dapat menyampaikan paling sedikit sepuluh kelompok makna: kebagiaan, rasa terkejut, ketakutan, kemarahan, kesedihan, kemuakan, pengecaman, minat, ketakjuban, dan tekad.
Pesan gestural menunjukkan gerakan sebagian anggota badan seperti mata dan tangan untuk mengkomunikasi berbagai makna.
Pesan postural berkenaan dengan keseluruhan anggota badan, makna yang dapat disampaikan adalah:
a.  Immediacy yaitu ungkapan kesukaan dan ketidaksukaan terhadap individu yang lain. Postur yang condong ke arah yang diajak bicara menunjukkan kesukaan dan penilaian positif
b. Power mengungkapkan status yang tinggi pada diri komunikator. Anda dapat membayangkan postur orang yang tinggi hati di depan anda, dan postur orang yang merendah.
c.  Responsiveness, individu dapat bereaksi secara emosional pada lingkungan secara positif dan negatif. Bila postur anda tidak berubah, anda mengungkapkan sikap yang tidak responsif.

         Ricardo Izecson “Kaka’” dos Santos Leite adalah salah satu selebritas lapangan hijau yang pernah membawa pulang penghargaan pemain terbaik di muka bumi pada tahun 2007.
         Kaka’ yang dikenal sebagai sosok bersahaja dan super religius bisa dikatakan cukup subur sebagai pemain yang aslinya hanya beroperasi di lini tengah tim yang diperkuatnya.
         Mulai dari masa ketika masih menginjak rumput di Sao Paolo, sampai saat ia menikmati indahnya langit Madrid, Kaka’ sudah menyumbangkan banyak gol penting bagi tim yang ia bela dan publik sepak bola seperti tak perlu susah-susah menebak style selebrasi apa yang akan terlihat sesaat setelah Kaka’ mempecundangi setiap kiper lawan.
         Ia akan berlari ke pinggir lapangan, mengangkat tangan dan sambil menengadah. ia mengacungkan sepasang jari telunjukknya ke arah langit. Terkadang Kaka’ memilih bersujud kemudian melepas jersey klub untuk menunjukkan kaus dalam yang ia pakai yang bertuliskan “I belong to Jesus”.
         “Itu adalah bentuk rasa terimakasihku kepada Tuhan”, kata Kaka’ suatu saat. “Setiap gol yang kucetak adalah berkat kasih-Nya yang berlimpah. Aku ada sekarang ini untuk menghibur para fans tak lain karena Yesus Kristus  masih memberiku kesempatan untuk hidup.”
         Selebrasi Kaka’ dapat diartikan sebagai bentuk pesan nonverbal rasa syukur yang ia layangkan kepada Tuhan yang menyelamatkan karier sepakbola briliannya. Sekadar info, Kaka’ pernah mengalami kecelakaan parah dan divonis lumpuh oleh dokter sehingga dipastikan tak akan mampu menggenapi mimpinya menjadi pemain sepakbola ternama. Namun setelah melalui pergumulan religius panjang, ia akhirnya dinyatakan pulih satu tahun kemudian. Bahkan performanya semakin meningkat drastis dan akhirnya Kaka’ menjadi salah satu dari gelandang paling memikat yang pernah menampilkan wujud dalam permainan sepakbola Eropa dan dunia.
         Pesan nonverbal yang berisi makna kereligiusan seorang pesepakbola bukan hanya dilakukan oleh sosok Kaka’ saja. Striker baru Chelsea, Demba Ba, adalah bentuk pemain lain yang menunjukkan bagaimana sebuah selebrasi mampu mengkomunikasikan keyakinan agama  yang seorang pemain anut. Ba, yang merupakan seorang Muslim taat, selalu mengawali luapan kegembiraan setelah mencetak gol melalui sujud syukur kepada Allah SWT. “Kebahagian dalam sepakbola tak akan membuatku lupa pada Allah” ungkap Demba Ba.
         Namun bukan melulu mengusung identitas agama semata, selebrasi dalam sepakbola juga banyak berisi pesan nonverbal berupa kritik terhadap kondisi, individu, lembaga, bahkan kepada klub yang selebrator bela.
         Siapa yang tak tersenyum simpul ketika melihat gaya selebrasi Paul Gascoigne si pagelaran EURO’96.
         Gazza—panggilan akrab Gascoigne—yang mencetak gol ke gawang timnas Skotlandia, langsung tertidur dan kemudian dihampiri oleh rekan setimnya di timnas Inggris yang sebelumnya mengambil botol air minum dari staf tim, dan lalu mengucurkan air dari botol tersebut ke mulut Gazza yang terbuka. Bentuk selebrasi ini menjadi pesan nonverbal yang dikirimkan Gazza dan rekan setimnya kepada media massa di Inggris yang beberapa hari sebelumnya sempat memuat dan menyebarkan foto-foto pemain Inggris ketika menghabiskan malam di sebuah klub malam sambil menenggak minuman beralkohol hanya beberapa saat jelang turnamen EURO dengan berbagai ulasan prediksi pesimistis yang mengikutinya.
         Mungkin pesan selebrasi yang Gascoigne cs. lakukan ini bisa diartikan sebagai “KAMI MABUK, DAN KAMI MAMPU MENCETAK GOL HEBAT”
         Carlos Tevez bisa dikatakan sebagai pemain yang paling “vokal” dan kritis dalam setiap pesan nonverbal yang terkandung dalam selebrasi yang ia lakukan seusai mencetak gol.
         Mungkin publik masih mengingat jelas momen ketika Tevez masih memakai seragam Manchester Red. Tevez yang saat itu mencetak gol, meluapkan kekesalannya pada pihak klub melalui selebrasi dengan berlari sepanjang tribun penonton sambil mengatupkan tangan kanannya ke telinga seperti gesture seorang yang kurang jelas mendengarkan. Pesan ini diartikan sebagai bentuk kekecewaan Tevez terhadap masa depannya di klub yang digantung dan keinginannya seakan “tidak didengarkan” dalam negosiasi klausal perpanjangan kontrak.
         Tidak usai sampai di situ, Tevez lagi-lagi melanjutkan hobi kritiknya melalui selebrasi terhadap kondisi internal klub ketika ia memilih hijrah ke klub rival sekota, Manchester Blue. Pada sebuah pertandingan melawan Norwich City, Tevez yang saat itu mencetak hattrick (tiga gol .pen) ke gawang lawan, berlari ke sudut lapangan sambil menampilkan gesture seperti seorang yang sedang bermain golf. Selebrasi itu tak akan berbuah kontroversi jika publik tidak mengingat alasan di balik munculnya selebrasi tersebut.
         Tevez yang terkenal sebagai sosok pemberontak, sebelum pertandingan itu sempat mendapat hukuman berupa pembekuan selama enam bulan karena terlibat konflik dengan Pelatih City, Roberto Mancini. Selebrasi tersebut ditenggarai sebagai bentuk kekesalan Tevez terhadap pelatih yang telah men-skorsingnya (Tevez banyak bermain golf untuk membunuh rasa bosan ketika menjalani hukuman tersebut) dan juga ditujukan kepada fans yang menghujatnya akibat ketidakpercayaan pendukung terhadap kembalinya kemampuan lama Tevez. Pesan tersebut mungkin berbunyi “KALIAN BISA LIHAT, ENAM BULAN MASA HUKUMAN, TAK AKAN BISA MENGHALANGIKU MENCETAK BANYAK GOL.”
         Yang terbaru, Tevez kembali menyelipkan pesan nonverbal berbentuk kritik dalam selebrasi golnya. Kali ini bukan untuk internal klub, namun buat pihak polisi!
         Apa hubungan Tevez dengan polisi? Tenyata sesaat sebelum pertandingan berlangsung, Tevez sempat mengalami insiden memalukan saat mobilnya disita aparat keamanan jalan dan mendapat tilang.. karena SIM-nya yang bermasalah.
         Tevez yang gemar berpesan kepada pihak tertentu melalui selebrasi, kemudian berlari ke sudut lapangan sambil terduduk dan menampilkan gerak tubuh seperti seorang yang sedang mengendarai mobil.
         Tevez tidak sendirian sebagai pemain sepakbola yang pernah mengeritik pihak kepolisian dalam bentuk selebrasi. Gary Cahill juga pernah ikutan “menyerang” pihak polisi saat mencetak gol pada sebuah laga bagi tim yang diperkuatnya, Everton. Pemain yang lahir di Australia ini berlari ke sudut lapangan sambil menampilkan gesture seperti sedang diborgol. Pesan ini dapat diartikan sebagai reaksi kesedihan Cahill kepada penangkapan yang dilakukan pihak kepolisian terhadap saudara dekatnya.
         “Saya sangat terpukul dengan kejadian tersebut.” Ucap Cahill dalam sesi wawancara seusai pertandingan. Akibat aksinya tersebut, pihak kepolisian Australia mengecam Cahill dan akhirnya ia mendapatkan hukuman berupa denda dari pihak FA (PSSI-nya Inggris .pen). Hal yang sama juga dilakukan oleh midfielder Ipwich Town, David Norris. Norris meniru gerakan tangan yang diborgol usai mencetak gol ke gawang Blackpool, November 2008 lalu. Bentuk selebrasi tersebut dianggap sebagai refleksi penangkapan yang terjadi pada sahabat dekatnya, Luke McCormick, yang ditahan akibat insiden panabrakan yang menewaskan dua orang anak kakak-beradik.
         Selain sebagai pengungkapan identitas agama dan bentuk kritik terhadap pihak tertentu, selebrasi yang bisa dikatakan bentuk “silent language” ini, juga tak terlepas dari ungkapan emosional yang melatarbelakangi terjadinya perayaan tersebut.
         Sulit melupakan selebrasi fenomenal Marco Tardelli pada putaran perempatfinal piala dunia 1982. Sembari berlari ke sudut lapangan setelah sebelumnya mencetak gol ke gawang Brasil, Tardelli tak henti-hentinya menepuk dadanya, dan menguncang-guncangkan kepalanya dengan kencang sambil meneriakkan namanya. Air mata mengalir deras dari kedua mata Tardelli yang berada pada fase klimaks kemagisan sebuah gol. Di waktu dan momen yang sama, lagenda hidup Brasil, Falcao, juga tak mampu mengendalikan luapan emosi kebahagiaannya setelah mencetak gol  ke gawang tim Tardelli.
         Setelah merobek Italia, Falcao berteriak “gila” sambil berlari ke sudut lapangan sembari mengangkat tangannya setinggi mungkin. Aksi balas membalas luapan emosi dalam format selebrasi tersebut menjadi kenangan yang memiliki kesan tersendiri bagi dunia sepakbola.

         Selebrasi dalam sepakbola juga memiliki pesan manusiawi dan penghormatan yang mendalam bagi setiap pelakunya.
         Totti dengan gaya selebrasi uniknya, mengemut jari jempol setiap kali selesai mencetak gol, berkata bahwa selebrasi tersebut ia dedikasikan kepada sang istri tercinta, Illary Blasi, yang telah memberikan seorang anak kepadanya.
         Berbeda dengan Totti yang menjadikan selebrasi sebagai ungkapan nonverbal rasa sayang terhadap istri, Clint Dempsey memiliki kisah mengharukan tersendiri di balik  selebrasi yang ia lakukan setiap kali mencetak gol.
         “Kakak perempuanku ada di setiap gol yang aku cetak,” kata Dempsey “..dia memang sudah tiada, namun dia pernah berjanji kalau dia akan menolongku menjaringkan bola ke gawang. Dan sampai sekarang aku percaya akan hal itu.”
         Dempsey memang sempat memiliki seorang Kakak perempuan yang meninggal akibat penyumbatan pembuluh darah di otak ketika masih berumur 16 tahun. Sosok sang Kakak yang sangat istimewa di mata Dempsey, membuatnya tak pernah lupa menoleh ke atas langit setiap kali mencetak gol ke gawang lawan. Ia menganggap, Jennifer—nama Kakak Dempsey—ikut membantunya mencetak banyak gol di lapangan dan sedang meilihatnya dari luasnya bentangan langit.
         Nyaris serupa dengan Dempsey, pemain timnas Spanyol dan klub Real Madrid, Sergio Ramos, beberapa kali menjadikan memorabilia sebuah kematian sebagai tema selebrasi ketika mencetak gol. Masih lekat di ingatan publik, terutama tentunya Ramos sendiri, ketika menyaksikan Antonio Puerta (sahabat baiknya ketika masih membela Sevilla) terkapar di pinggir lapangan akibat serangan jantung. Ramos sempat memeluk Puerta dan menepuk-nepuk tubuh Puerta yang sedang mengerang kesakitan. Setelah beberapa saat siuman dan berjalan ke luar lapangan untuk mendapatkan pertolongan medis, Puerta akhirnya menjadi alasan kenapa Ramos menangis pedih beberapa hari kemudian, ketika Puerta harus dikalahkan untuk selama-lamanya akibat penyakti yang ia idap. Puerta wafat di saat kariernya memasuki masa puncak. Ramos yang terpukul akibat kejadian tersebut beberapa kali mengadakan selebrasi untuk mengenang sahabat baiknya tersebut. Yang paling terkenal ketika momen perayaan keberhasilan Spanyol menjuarai pagelaran EURO 2008, Ramos yang saat itu menggenggam tropi EURO, terekam menggunakan T-shirt bergambar wajah Antonio Puerta dengan sebuah tulisan kecil berbunyi “siempre con nosotros” yang artinya “kami semua ada untukmu.”

         Cristiano Ronaldo juga adalah contoh nyata bagaimana sebuah penghormatan dan respek dapat ditunjukkan melalui sebuah aksi selebrasi.
         Ketika pemain dengan kaki berharga 1,3 triliun ini masih memperkuat Manchester United, dan diharuskan berlaga melawan mantan klubnya di Portugal, Sporting Lisbon, Ronaldo menunjukkan sikap profesioanlime dan respek yang tinggi setelah “tega” mencetak gol ke gawang klub yang telah membesarkan namanya tersebut. Alih-alih meluapkan kegembiraan sesudah mencetak gol indah, Ronaldo malah mendekati suporter lawan yang pernah jadi kawan, sambil menunjukkan gerak tangan meminta maaf yang langsung disambut standing ovation fans Sporting Lisbon yang jelas merasa terharu karena Ronaldo ternyata masih menaruh rasa hormat kepada mereka.
         Setelah meninggalkan MU dengan memecahkan rekor transfer sebagai pemain sepakbola termahal di dunia, pemain yang pernah menggenggam gelar pemain terbaik dunia pada tahun 2008 ini, memilih memperkuat klub raksasa asal ibukota Spanyol, Real Madrid.
         Dan lagi-lagi, Ronaldo kembali ditakdirkan menghadapi situasi dramatis ketika harus menjadi lawan dari mantan klubnya, Manchester United, dalam pertandingan perempat final Liga Champions Eropa edisi 2013.
         Peristiwa memilukan pun terjadi. Ronaldo yang tetap menjunjung tinggi nilai profesionalitas dibanding terpengaruh rentetan memori sentimentil, “terpaksa” mencetak dua gol yang akhirnya “membunuh” peluang tim lamanya itu melaju ke babak berikutnya.
         Kembali, Ronaldo tidak mau melukai lebih dalam hati para fans yang pernah dan mungkin masih mencintainya, dengan memilih berselebrasi dengan tidak menampilkan selebrasi apa pun sebagai bentuk penghormatan kepada klub yang telah diperkuatnya selama lebih dari 7 tahun tersebut.
         Sikap sportif Ronaldo itu ternyata tidak diikuti pemain yang pernah menjadi rekan setimnya di Real Madrid, Emmanuel Adebayor. Adebayor yang sempat memperkuat klub Manchesetr City setelah pindah dari tim London Utaram, Arsenal, pernah memicu kontroversi akibat aksi selebrasi kurang pantas yang ia lakukan setelah mencetak gol ke gawang mantan klubnya tersebut. Ade diisukan pergi dari tim berjuluk The Gunners itu akibat menerima perlakuan negatif dari pihak klub dan sorakan mengejek fans yang rutin ia dapatkan, meluapkan kegembiraan dan rasa bencinya kepada Arsenal dengan berlari ke arah tribun yang diisi oleh suporter Arsenal sambil merentangkan kedua tangannya selebar mungkin sambil menikmati cacian dan umpatan warna-warni pendukung Arsenal yang merasa dilecehkan oleh bentuk perayaan gol Adebayor tersebut. Setelah pertandingan usai, media Inggris ramai-ramai mengeritik bentuk selebrasi Ade yang ujung-ujungnya “membangunkan” FA untuk turun tangan dan kemudian, mendenda pemain berpaspor Togo itu.
         Banyak pesan berupa ungkapan kemarahan yang ditunjukkan seorang pemain sepakbola melalui aksi selebrasi setelah yang bersangkuatan mencetak gol.
         Contohnya, ketika Craig Bellamy (saat itu masih memperkuat Liverpool) yang seperti  halnya Tevez, menggunakan gesture pukulan dalam olahraga golf sebagai tampilan selebrasi yang mengungkapkan betapa kekesalan Belammy belum lenyap, setelah sebelumnya ia mengalami pertengkaran hebat dengan rekan setimnya, John Arne Riise, di sebuah klub malam dan dikabarkan Bellamy sempat ingin memukul Riise dengan stick golf sebelum berhasil dipisahkan oleh pemain Liverpool yang lain.  
         Dari rangkaian bentuk selebrasi di atas, mungkin yang paling memilukan adalah ketika sebuah perayaan kemenangan yang harusnya berlangsung bahagia, malah berujung menjadi sanksi, kerusuhan, bahkan hilangnya nyawa manusia sebagai efek yang ditimbulkan dari selebrasi tersebut.
         Mohammad Norsati, seorang pemain klub Persepolis asal Iran, mesti menyesali bentuk selebrasi yang ia lakukan sesaat setelah mencetak sebuah gol dalam laga lanjutan liga Iran. Ia mendapat denda sebesar 25 ribu pounds karena melakukan selebrasi dengan memegang bokong rekan setimnya seusai menjaringkan bola ke gawang Damash Gilan. Iran, yang tergolong sebagai negara Islam konservatif, menganggap aksi Norsati sebagai bentuk pelecehan seksual dan tidak pantas dilakukan karena pertandingan itu sendiri disiarkan secara nasional.
         Efek yang lebih ekstrim harus diterima Giorgos Katidis, pemain potensial dari klub AEK Athens, di liga Yunani. Karena selebrasi yang Katidis lakukan, ia mesti dijatuhi sanksi seumur hidup tidak boleh memperkuat timnas Yunani! Bukannya apa-apa, Katidis yang mencetak gol penentu kemenangan pada laga melawan Varia, secara mengejutkan menampilkan selebrasi dengan mengangkat tangannya lurus ke depan, percis seperti penghormatan dalam partai komunis NAZI. Pihak berwenang persepakbolaan Yunani tanpa ampun langsung menganggap apa yang dilakukan mantan kapten timnas U-19 Yunani tersebut sebagai tindakan keterlaluan dan tidak manusiawi, mengingat aspek psikologis dan moril yang masih melukai pihak keluarga korban holocauts yang mungkin menyaksikan ketika Katidis melakukan selebrasi dari partai yang terkenal dengan aksi genosida Yahudinya itu.
         Berbeda dengan Katidis dan Norsati yang “hanya” mendapat sanksi dari organisasi persepakbolaan negaranya masing-masing, Rogerio Pereira sudah “selangkah lebih maju” dengan menjadikan selebrasi yang ia lakukan sebagai pemicu perkelahian massal yang terjadi ketika timnya berlaga pada sebuah kompetisi regional Brasil. Melawan tim Brasilia, Pereira yang saat itu mencetak gol kelima untuk timnya, Ulbra, berlari ke arah suporter tim lawan. Bukan karena aksi berlarinya ke tribun lawan, namun gerak selebrasi yang ia tunjukkanlah yang kemudian memancing para pemain Brasilia mengeroyok Pereira secara massal. Pereira ditenggarai menirukan gerak tubuh salah satu pemain tim Brasilia, Claudio Millar, yang sebelumnya tewas dalam kecelakaan bus. Hal tersebut otomatis menyulut kemarahan pemain Brasilia yang serentak memukuli Pereira tanpa ampun. Tak berakhir di situ, skuad Ulbra tak tinggal diam dan balas menyerang pemain Brasilia. Bukan hanya pemain, namun offisial pelatih dan bahkan pemain cadangan pun ikut serta “meramaikan” perkelahian massal antar dua klub tersebut.
         3 kartu merah untuk tim Ulbra plus 4 kartu berwarna sama untuk pemain Brasilia akhirnya mengakhiri laga dalam damai.
         Jika seluruh rangkaian ilustrasi selebrasi sebelumnya kebanyakan berujung sanksi dan kericuhan, mungkin apa yang dialami Matthias Sindelar adalah yang paling memilukan karena selebrasi yang ia lakukan membuatnya harus rela mengucap selamat tinggal pada dunia. Ia tewas terbunuh.
         Matthias Sindelar bisa dikatakan sebagai “Ronaldo” pada masanya. Ia adalah pemain emas yang telah banyak menorehkan prestasi dalam sepakbola. Sampai pada tahun 1938, ketika itu perang dunia ke dua sedang berkecamuk dengan hebat, dan Jerman, dengan NAZI di belakangnya, rajin menginvasi untuk kemudian menganeksasi banyak negara, termasuk Austria, negara di mana Sindelar pernah terlahir dan hidup bahagia. Jerman sebagai penjajah berinisiatif mengadakan sebuah pertandingan sepakbola “pura-pura” dan “simbolis” antara Jerman melawan timnas Austria. Sindelar yang menjadi ujung tombak tim negara Austria, bersama rekan-rekannya yang lain, diinstruksikan untuk “bermain-main” dalam pertandingan itu demi menghormati Jerman sebagai pihak yang lebih kuat.
         Awalnya Sindelar mengikuti perintah tersebut, namun entah kerena semangat nasionalismenya yang kuat muncul, ia kemudian bangkit melawan dan akhirnya berhasil mencetak gol ke gawang Jerman. Sindelar langsung berlari ke arah barisan tribun yang diduduki oleh jajaran petinggi partai NAZI dan kemudian ia menari, dengan nekatnya, di depan mereka. Selebrasinya itu otomatis mendapat tatapan tajam super bengis dari pihak NAZI, dan seperti “sudah sewajarnya”, beberapa waktu kemudia, Matthias Sindelar ditemukan tewas terbunuh mengenaskan bersama kekasihnya di sebuah penginapan di Austria dan kuat diduga, NAZI ada di balik itu semua.

         Pesan nonverbal secara interpretatif memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi dibandingkan pesan berformat verbal dalam membubuhi arti. Berbagai makna pesan dapat ditarik dan disimpulkan oleh komunikan ketika sebuah gerak tangan, wajah atau bentuk stimuli kinetik lainnya diselipkan pesan-pesan tertentu yang melatarbelakangi motivasi pelakunya.
         Sepakbola sebagai “game of life” sering mendapat sorotan yang sangat luas akibat warna-warni selebrasi yang pemain lakukan sebagai bentuk manifestasi dari banyak hal-hal emosional, bukan hanya kebahagiaan, namun juga kemarahan, kesedihan, protes, pemberontakan, motivasi politis hingga aspek ada religi.
         Olahraga secara umum dan sepakbola secara spesifik, tak terlepas dari aktivasi pesan nonverbal dalam prosesnya, terutama dalam bentuk luapan emosi yang berbeda-beda antar satu pemain dengan yang lain.
         Kajian komunikasi olahraga memang sudah diapungkan sebagai bagian dari kegiatan akademis. Namun sifatnya yang masih sangat sempit belumlah cukup untuk mewakili banyak hal yang olahraga (terutama sepakbola) mampu sediakan bagi kaum akademisi untuk diteliti.
         Termasuk analisis komunikasi nonverbal dalam berbagai bentuk selebrasi yang pemain sepakbola lakukan yang sebenarnya memuat kajian historis, fungsional, karakteristik sampai pada etika komunikasi.